(061) 8821532
getsbinjai@gmail.com

Sejarah Gereja

PROFILE GEREJA GMI GETSEMANI BINJAI

Sejarah singkat Gereja Methodist Indonesia Jemaat Getsemani Binjai.

Kehadiran Gereja Methodist Indonesia Binjai, secara sadar harus diakui adalah juga bagian dari sejarah pelayanan Gereja Methodist Indonesia di Medan.

Pada tanggal 24 Juli 1915, Rev. Isley bersama Sdr. Pe Yok Pek dan Sdr. Khu Chun Bie mengadakan malam Evanglisasi dan pemutaran film rohani di kota Binjai. Inilah awal mula adanya Gereja Methodist Binjai. Pelayanan ini kemudian dilanjutkan dengan meminjam satu pintu ruko di Jalan Bingai, dan jumlah orang yang menghadiri kebaktian tidak lebih dari 10 orang.

 

Pada Bulan Agustus tahun 1918, tempat ibadah yang semula dipindahkan ke Jalan Mesjid, dengan menyewa dua pintu ruko No. 9 dan No. 11. Ruko No. 9 dipergunakan untuk tempat ibadah, dan Ruko No. 11 dipakai untuk sekolah berbahasa Inggeris. Pada masa itu, belum ada hamba Tuhan yang melayani secara full timer, dan untuk mengatasi kesulitan ini maka ditunjuk Sdr. Pe Yok Pek sebagai sintua dalam mengurus dan memperhatikan keperluan jemaat.

 

Kebaktian Minggu pada waktu itu diadakan pada pukul 10.00 WIB, dan pengkhotbah didatangkan dari Medan yang secara bergantian, seperti: Pdt. Ong Lim Eng. Pada Rabu malam, diadakan Kebaktian doa dan dilayani sintua Pe Yok Pek.

 

Menurut catatan yang diperoleh, bahwa ada beberapa orang dewasa dan anak-anak yang menerima baptisan dari Gereja Methodist Medan (sekarang Jemaat Gloria) dan sudah menjadi jemaat.

Meskipun pada saat itu sulit memiliki Gembala Sidang yang tetap (1919 -1921), tetapi jemaat bertumbuh, khususnya dari kalangan suku Batak.

 

Pada tahun 1928, ditempatkan Ev. Lim Teng Hui yang baru kembali dari Cina dan melayani jemaat di Medan dan merangkap pelayanan di GMI Binjai.

Pada tahun 1929, Rev. R.L. Archer merencanakan dan mempersiapkan untuk membangun gedung gereja yang baru. Dan pada akhir tahun 1929, diadakan pembangunan gedung gereja tersebut ditangani oleh Rev. A.V. Klaus sampai selesai.

Pada tahun 1931, diadakan peresmian dan pentahbisan gedung gereja yang baru, acara ini dipimpin oleh Bishop Edwin F. Lee. Kemudian Ev. Lim Teng Hui, dimutasikan dari GMI Binjai dan pelayanan diteruskan oleh Ev. Cleopas L. Tobing untuk jemaat berbahasa Batak dan Pdt. Ong Lim Eng untuk jemaat berbahasa Hok Kien.

Pada tahun 1935, ditempatkan Pdt. Tan Han Kiat sebagai Gembala Sidang selama satu tahun. Dan tahun 1936, tugas pelayanan digantikan oleh Pdt. Chang Guan Hong selama dua setengah tahun. Kemudian pada tahun 1939, tugas pelayanan dilanjutkan oleh Pdt. Thia Chu Kie sebagai Gembala Sidang GMl Binjai. Beliau dapat menyesuaikan diri ditengah-tengah pemuda dan akhirnya banyak menarik perhatian dan minat para pemuda untuk mengikuti kebaktian.

Maka pada tgl. 29 Maret 1939, dibentuklah Persekutuan Pemuda (sekarang Persekutuan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia).

Pada tahun 1941, Pdt. Thia Chu Kie meninggalkan pelayanan di GMI Binjai dan kembali ke Malaysia. Tugas pelayanan diemban oleh Rev. Egon N. Ostrom dan seorang penginjil wanita dari Medan yang bernama Goh Su Tek. Tugas pelayanan ini juga dibantu oleh Pdt. Tan Peng Khun dari Pematang Siantar dan secara bergantian mereka memimpin ibadah dan perjamuan kudus. Waktu kebaktian pada masa itu diubah pada Minggu malam.

Pada pertengahan tahun 1945, Pdt. Yap Un Han secara rangkap melayani Gereja Methodist Binjai. Tetapi tahun 1945, adalah masa Kemerdekaan Republik Indonesia, dan sering transportasi mengalami kendala yang mengakibatkan pelayanan Pdt. Yap menjadi seret.

Namun syukurlah Bapak Pe Yok Pek mengatasi kesulitan itu, dengan melibatkan dirinya di dalam pelayanan sampai pada tahun 1947. Menjelang beberapa waktu kemudian Sintua Pe Yok Pek pindah ke Medan, dan pelayanan yang diembannya dilanjutkan oleh Bapak Ghan Ban Hu sebagai Majelis pada waktu itu. Satu bulan sekali Rev. A.V. Klaus menyampaikan Firman Tuhan dan disamping itu Rev. Luther Hutabarat juga mengambil bagian dalam penyampaian Firman Tuhan serta mengadakan kunjungan rumah tangga di rumah-rumah jemaat.

 

Pertengahan tahun 1948, Pdt. Yap Un Han kembali dari Singapura dan ditempatkan di Gereja Methodist Medan (Jemaat Gloria) sembari melayani kembali jemaat di Gereja Methodist Binjai.

Melihat kesibukan pelayanan Pdt. Yap di Gereja Methodist Medan, dirasakan perlu segera adanya seorang Gembala yang dapat bekerja secara full timer di Gereja Methodist Binjai. Dan para anggota juga merasakan perlu segera dibangun rumah pekerja untuk tempat tinggal hamba Tuhan yang akan melayani di GMI Binjai. Akhirnya salah seorang anggota jemaat yakni Nyonya Lim Giok Sing serta putrinya Lim Siu Hua dengan rela hati menyumbang biaya pembangunan dan Bapak Ghan Ban Hu langsung mengawasi pekerjaan pembangunan rumah pekerja. Jemaat dengan kesadaran juga turut mendukung biaya pembangunan.

Pada tahun 1948, selesailah pembangunan rumah pekerja. Dan pada tanggal 23 Desember tahun itu juga, diresmikan rumah pekerja dan peresmian dipimpin oleh Rev K. Rajnar dan mewakili Distrik Superintendent Ng Bo Teng.

Pada tahun 1949, Pdt. Cua Beng Wan ditempatkan sebagai Gembala Sidang dan sekaligus merangkap Pimpinan PKMl, tetapi pada tahun 1951 melalui Konfrensi tahunan, Pdt. Cua Beng Wan dimutasikan ke Gereja Methodist Bagan Siapi-api dan tugas pelayanan digantikan oleh Penginjil Teh Ceng Cuan.

Pada tahun 1953, penginjil Teh Ceng Cuan dimutasikan ke PKMI Medan sebagai seksi pengajar. Pelayanan di Binjai diteruskan oleh Pdt. Cong Han Giok (sekarang DS. J. Edenata) dan dibantu oleh Rev . G.A. Robinet yang datang sekali sebulan menyampaikan khotbah

Pada tahun 1954, Rev. C.A. Robinet memprakarsai dan membentuk Persekutuan Wanita (PWPK) di Gereja Methodist Binjai. Setelah Persekutuan Wanita terbentuk, nampak keaktifan kaum ibu-ibu datang menghadiri kebaktian setiap hari Jumat. Dan setiap kali kebaktian disediakan makanan ringan oleh kaum ibu-ibu secara bergantian Hal ini adalah usul dari Rev. C.A. Robinet yang bertujuan untuk lebih mengikat tali persaudaraan diantara sesama kaum ibu-ibu. Tradisi atau kebiasaan ini dipertahankan hingga saat ini.

Tahun 1958, Gr. Cong Han Giok (sekarang DS. J. Edenata) setelah berhasil menyelesaikan pendidikan Theologia di Institut Alkitab Methodist Medan, dan secara resmi ditempatkan melalui Konfrensi tahunan untuk melayani Gereja Methodist Binjai sebagai Gembala Sidang dan merangkap pimpinan PKMI Binjai.

Akibat dari agresi Jepang di Indonesia pada tahun 1942, yang sempat berpengaruh pada pemuda-pemudi gereja dan mengakibatkan kebaktian persekutuan pemuda terpaksa dihentikan. Dan tahun 1959, Gr. Huang Siong Tek (sekarang Pdt. Boaz Yahya) bertugas di PKMI Binjai sebagai Tata Usaha, serta kemudian mengaktifkan kembali Persekutuan Pemuda yang sudah terhenti sekian tahun lamanya. Tahun 1965, dibentuk lagi satu persekutuan baru khusus bagi remaja (sekarang Persekutuan Remaja Methodist Indonesia).

Pada tahun 1965, Pdt. J. Edenata melalui Konfrensi tahunan dimutasikan untuk menjabat tugas pimpinan PKMI Medan (Methodist II Thamrin Medan) dan Gr. Boaz Yahya ditetapkan menjadi Gembala Sidang GMI Binjai selama dua tahun. Tahun 1968, Pdt. Chen Pau Hua ditempatkan sebagai Gembala Sidang dan beliau melayani selama 4 tahun sebelum dimutasikan ke GMI Pemantang Siantar. Satu-satunya anak yang dihasilkan GMI Binjai selama masa 60 tahun ini adalah Pos PI Kuala (kini GMI Kuala). Gereja ini diawali pada tahun 1960 dengan mengadakan kebaktian yang dipimpin oleh Sdr. Cuang Ik Fung (adik Pdt. J. Edenata). Pada mulanya kebaktian diadakan pada sore hari untuk Sekolah Minggu dan malam hari untuk kebaktian Evangelisasi, dengan status tempat yang berpindah-pindah.

Puji Tuhan, setelah kegiatan ini berjalan sekitar dua minggu. Sdri. Juliana telah tergugah hatinya sehingga dengan rela mempersiapkan satu pintu ruko (milik orang tuanya) di Jl. H. Samanhudi 64 Kuala untuk tempat kebaktian (Sdri. Juliana kemudian menerima baptisan pada tahun 1962 di GMI Binjai).

Pada tahun 1961 diadakan perayaan Natal yang pertama, kemudian pada tahun 1963 tempat kebaktian dipindahkan ke ruko Jl. Multatuli 14 Kuala (milik Sdri. Lim Siu Khim, majelis GMI Binjai).

Semenjak itu anggota yang mengikuti kebaktian kian bertambah, dan tidak sedikit anak-anak dan hamba-hamba Tuhan pernah melayani di sana.